Media Pembelajaran benda asli

Pembelajaran dengan media benda asli.

Pentingnya Perangkat pembelajaran

pentingnya perangkat pembelajaran.

Awas!sesi belajar ini membuat 90% siswa bernafsu

awas!! sesi belajar ini membuat siswa semakin bernafsu.

Mengatasi tekanan sebaya (peer presure)

cara mengatasi tekanan sebaya (peer presure) sebagai sebuah langkah penunjang proses belajar.

Penggunaan public speaking dalam pembelajaran

walaupun tidak seluruh guru melupakan public speaking tetapi mayoritas guru tidak mengindahkannya.

Wednesday, December 17, 2014

Hobi melatih sikap disiplin

Sikap disiplin pada anak sangat sulit dibentuk. tidak sedikit para orang tua ataupun para pendidik yang mengalami stress akibat gagal menanamkan sikap disiplin pada anak. terkait dengan hal tersebut ternyata sikap disiplin dapat di bentuk dengan cara yang menyenangkan yaitu dengan memfasilitasi hobi anak.
hobi melatih sikap disiplin

Sama persis dengan cinta, hobi pun demikian. Mau hujan mau panas hobi tetap jalan. Bahkan, beberapa orang rela mengeluarkan uang miliaran hanya untuk hobi. Seorang teman bahkan rela mengubah jam tidurnya hanya karena punya hobi baru.

Berdasarkan hal tersebut saya pernah ber eksperimen untuk menerapkan hal tersebut untuk menanamkan sikap disiplin pada seorang anak yang sulit sekali disiplin terhadap waktu. Saya memperkenalkan burung kicau padanya dengan harapan burung tersebut kelak akan menjadi hobi baru untuknya. Dan ternyata anak tersebut tertarik, kemudian saya mengajarkan cara merawat burung tersebut. untuk Perawatan burung kicau kuncinya adalah disiplin waktu. terutama soal makan dan pembersihan kandang. hari demi hari sang anak semakin disiplin terhadap waktu. terutama di pagi hari, anak tersebut sudah bangun dengan bersemangat dan hingga sekarang bangun pagi menjadi sebuah keharusan baginya.

dari hal tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sikap disiplin memang hadirnya dari dalam hati, dan tak bisa dipaksakan. artinya jelas bahwa untuk menanamkan sikap disiplin harus dimulai dari hal-hal yang memang di sukai oleh sang anak. dengan begitu maka sikap disiplin yang muncul akan hadir dari dalam hati, sehingga seiring dengan berjalannya waktu maka sikap disiplin tersebut akan tumbuh menjadi sebuah kebiasaan.

saya pernah berpikir, mungkin kita harus merubah pola hukuman pahit bagi siswa yang terlambat dan menggantinya dengan sistem deteksi hobi. Para siswa di identifikasi hobinya, kemudian mereka diberi tugas untuk membuat karya baru sesuai denga hobinya masing-masing dan dikumpulkan pada pagi hari 30 menit sebelum bel masuk sekolah. bagi yang suka melukis maka mengumpulkan lukisan, bagi yang suka musik, mungkin bisa diberi tugas untuk membuat lirik lagu atau aransemen musik karya sendiri atau tugas-tugas lainnya yang terkait hobinya masing-masing. tugas-tugas tersebut lantas diberi nilai di atas rata-rata sebagai sebuah stimulus. hal ini dilakukan selama 8 kali-10 kali, kemudian di evaluasi apakah kedisiplinan mereka terhadap waktu sudah terbentuk. 

jika hal ini di kembangkan dan di evaluasi secara kontinyu saya yakin kita bisa menciptakan sebuah sistem yang dapat membentuk sikap disiplin. terutama bagi bentuk disiplin yang terkait dengan dunia pendidikan seperti disiplin waktu, disiplin mengajar dan disiplin belajar.

semoga bermanfaat.


Posted by: agus diansyah pendidikan, Updated at: 11:09 AM

Monday, December 15, 2014

Pengertian Program remedial


  1. Pengertian Program Remedial
Program Remedial adalah program pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kompentensi minimalnya dalam satu kompetensi dasar tertentu.
Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan tujuan pembelajarannya pun dirumuskan sesuai dengan kesulitan yang dialami peserta didik.
Pada program pembelajaran remedial, media belajar harus betul-betul disiapkan guru agar dapat mempermudah peserta didik dalam memahami pelajaran yang dirasa sulit.Alat evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran remedial pun perlu disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami peserta didik.

PENTING UNTUK DIPAHAMI GURU
Remedial bukan mengulang tes (ulangan harian) dengan materi yang sama, tetapi guru memberikan perbaikan pembelajaran pada KD yang belum dikuasai oleh peserta didik melalui upaya tertentu. Setelah perbaikan pembelajaran dilakukan, guru melakukan tes untuk mengetahui apakah peserta didik telah memenuhi kompetensi minimal dari KD yang diremedialkan.


Mengapa diperlukan pembelajaran remedial?
Setiap guru berharap peserta didiknya dapat mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan. Berdasarkan permendikbud No.65 tentang Standar Proses,No.66 thn 2013 tentang standar penilaian, setiap pendidik hendaknya memperhatikan prinsip perbedaan individu (kemampuan awal, kecerdasan, kepribadian, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, gaya belajar), maka program pembelajaran remedial dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/hak anak. Dalam program pembelajaran remedial guru akan membantu peserta didik, untuk memahami kesulitan belajar yang dihadapinya, mengatasi kesulitannya tersebut dengan memperbaiki cara belajar dan sikap belajar yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal.

Kapan dilakukan program pembelajaran remedial?
Mengacu pada permendikbud 65 tentang Standar Proses,No.66 thn 2013 : “Hasil penilaian otentik dapat digunakan oleh guru untuk merencanakan program perbaikan (remedial), pengayaan (enrichment) atau pelayanan konseling.
Penilaian yang dimaksud adalah tidak terpaku pada hasil tes (ulangan harian) pada KD tertentu. Penilaian juga bisa dilakukan ketika proses pembelajaran berlangsung (dari aspek pengetahuan, sikap ataupun keterampilan).
Pembelajaran remedial dilakukan ketika peserta didik teridentifikasi oleh guru mengalami kesulitan terhadap penguasaan materi pada KD tertentu yang sedang berlangsung. Guru dapat langsung (segera) melakukan perbaikan pembelajaran (remedial) sesuai dengan kesulitan peserta didik tersebut, tanpa menunggu hasil tes (ulangan harian). Program pembelajaran remedial dilaksanakan di luar jam pelajaran efektif atau ketika proses pembelajaran berlangsung (bila memungkinkan).

Berapa lama program pembelajaran remedial dilakukan?
Program pembelajaran remedial dilaksanakan sampai peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diharapkan (tujuan tercapai).Ketika peserta didik telah mencapai kompetensi minimalnya (setelah program pembelajaran remedial dilakukan), maka pembelajaran remedial tidak perlu dilanjutkan.

Bagaimana program pembelajaran remedial dilakukan?
Teknik pembelajaran remedial bisa diberikan secara individual maupun secara berkelompok (bila terdapat beberapa peserta didik yang mengalami kesulitan pada KD yang sama).
Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial yaitu : pembelajaran individual, pemberian tugas, diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, dan tutor sebaya.
Aktivitas guru dalam pembelajaran remedial, antara lain : memberikan tambahan penjelasan atau contoh, menggunakan strategi pembelajaran yang berbeda dengan sebelumnya, mengkaji ulang pembelajaran yang lalu, menggunakan berbagai jenis media.Setelah peserta didik mendapatkan perbaikan pembelajaran,ia perlu menempuh penilaian, untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai kompetensi dasar yang diharapkan.

Siapa yang melakukan program pembelajaran remedial?
Yang melakukan program pembelajaran remedial adalah Guru kelas. Guru kelas dapat melakukan identifikasi terhadap kesulitan peserta didik dan langsung membuat perencanaan pembelajaran remedial. (misal mencari metode dan aktivitas yang lebih tepat, mencari dan menetapkan waktunya).

  1. Prinsip-prinsip Program Remedial:
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus antara lain:
  1. Adaptif
Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan daya tangkap, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing.
  1. Interaktif
Pembelajaran remedial hendaknya melibatkan keaktifan guru untuk secara intensif berinteraksi dengan peserta didik dan selalu memberikan monitoring dan pengawasan agar mengetahui kemajuan belajar peserta didiknya.
  1. Fleksibilitas dalam metode pembelajaran dan penilaian
Pembelajaran remedial perlu menggunakan berbagai metode pembelajaran dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
  1. Pemberian umpan balik sesegera mungkin
Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin agar dapat menghindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut.
  1. Pelayanan sepanjang waktu
Pembelajaran remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.

III. Langkah-langkah pembelajaran Remedial


Posted by: agus diansyah pendidikan, Updated at: 4:01 AM

Remedial dan Pengayaan siswa SD


Panduan Teknis Remedial dan Pengayaan ini dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu: Pembelajaran Remedial dan Pengayaan di Bab 2, serta Program Remedial dan Pengayaan di Bab 3.
Pembelajaran Remedial dan Pengayaan merupakan tindak lanjut guru terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Proses dan hasil belajar dapat berupa kesulitan penguasaan peserta didik terhadap satu atau dua KD, dan tidak bersifat permanen. Jika pada kompetensi Inti pengetahuan dan keterampilan (KI-3 dan KI-4), peserta didik belum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar dan hasil yang baik, maka peserta didik tersebut tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya.
remedial dan pengayaan siswa SD

Sebaliknya, mungkin saja Kompetensi Dasar tersebut terlalu mudah bagi peserta didik, dan juga tidak bersifat permanen. Untuk itu setiap setelah ulangan atau mengerjakan tugas, hasil kerja peserta didik dinilai dan ditentukan, apakah mereka perlu remedial, pengayaan, atau tidak perlu perlakuan khusus.

Ketuntasan belajar harus mengakomodir perbedaan individual peserta didik. Karena asumsi yang digunakan dalam belajar tuntas adalah peserta didik dapat belajar apapun, hanya waktu yang dibutuhkan yang berbeda. Peserta didik yang belajar lambat perlu waktu lebih lama untuk materi yang sama, dibandingkan peserta didik pada umumnya. Untuk peserta didik yang lamban, diperlukan langkah-langkah dan pemberian materi serta penanganan yang berbeda dengan peserta didik uang cepat.

Program remedial dan pengayaan dimaksudkan untuk membantu guru memberikan penanganan bagi peserta didik yang memiliki kesulitan belajar pada umumnya, tidak terbatas pada satu atau dua KD (1,2,3,4) tetapi untuk selama bersekolah. Penanganannya memerlukan peran guru sebagai konselor, konselor sekolah, ahli psikologi, bahkan dokter dan ahli lainnya.

  1. Sasaran Pengguna Panduan Teknis Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
Pengguna Panduan Teknis ini mencakup pihak-pihak sebagai berikut.
  1. Pendamping Kurikulum 2013 di tingkat satuan pendidikan.
  2. Guru secara individual atau kelompok guru (guru mata pelajaran, guru kelas, dan guru pembina kegiatan ekstrakurikuler)
  3. Pimpinan satuan pendidikan (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas)
  4. Guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah
  5. Tenaga kependidikan (pengawas, pustakawan sekolah, pembina pramuka)
  6. Orangtua dan masyarakat

  1. Tujuan Panduan Teknis Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
Panduan Teknis ini dimaksudkan untuk:
1.     Memfasilitasi guru secara individual dan kelompok dalam merencanakan, melaksanakan dan mengembangkan pembelajaran remedial dan pengayaan dalam berbagai modus, strategi, dan model untuk muatan dan/atau mata pelajaran yang diampunya; 

2.     Memfasilitasi guru secara individual dan kelompok dalam merencanakan, melaksanakan dan mengembangkan program remedial dan pengayaan dalam berbagai modus, strategi, dan model untuk muatan dan/atau mata pelajaran yang diampunya; 

3.     Memfasilitasi guru BK atau konselor sekolah, juga guru kelas dan guru mapel untuk menangani dan membantu peserta didik yang secara individual mengalami masalah psikologis atau psikososial.

  1. Ruang Lingkup Panduan Teknis
Panduan Khusus ini mencakup substansi sebagai berikut.
  1. Pengertian, Prinsip dan Langkah-Langkah Pembelajaran Remedial dan Pengayaan sebagai landasan bagi guru, orang tua dan masyarakat merancang penerapan tindak lanjut hasil penilaian pembelajaran. 
  2. Pengertian, Prinsip dan Langkah-langkah Penerapan Program Remedial dan Pengayaan sebagai acuan atau masukan bagi guru, orang tua dan masyarakat dalam melakukan kegiatan remedial dan pengayaan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat peserta didik/putra-putrinya.
  3. Contoh-contoh Pembelajaran dan Program Remedial dan Pengayaan di kelas.

Posted by: agus diansyah pendidikan, Updated at: 3:52 AM

Saturday, December 13, 2014

Anak-anak tidak butuh uang? Benar atau salah

Geliat kota Metropolitan begitu padat di saat jam-jam kerja. setiap orang seolah sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaannya masing-masing. Dari seluruh aktivitas tersebut ternyata motivasi terbesar untuk aktif bekerja adalah "keluarga" utamanya adalah demi "anak". kita semua tentu setuju bahwa kita bekerja semata-mata untuk kehidupan keluarga terutama kehidupan anak. tapi yang menjadi pertanyaan adalah ? apakah memang anak-anak butuh uang??????? setiap hari kita berupaya menghabiskan energi seoptimal mungkin untuk sebuah kata "uang" semuanya demi anak. tapi disaat segala kebutuhan anak sudah terpenuhi, apakah anak-anak senang??????



untuk menjawab hal tersebut mari kita cermati beberapa penelitian dibawah ini:

"Hubungan pertama si anak adalah dengan ibu yang bisa mempengaruhi hubungan emosional di kemudian hari," ujar profesor dan psikiater Allan Schore, PhD dari UCLA, seperti dikutip dari Everyday, Sabtu (22/12/2012). Penelitian mendukung teori ini, studi terbaru menunjukkan ikatan antara ibu dan anak bisa mempengaruhi otak, jantung, tubuh dan bahkan kehidupan seks seseorang. dari teori di atas jelas bahwa ikatan emosional yang paling kuat adalah antara ibu dan anak. hubungan antara ibu dan anak ternyata juga mempengaruhi tingkat emosional anak di kemudian hari. 

jadi jelas bahwa yang dibutuhkan anak adalah kasih sayang dan perhatian bukan uang. saya jadi ingat acara si bolang. anak-anak desa dengan permainan yang begitu tradisional berupa batang bambu ataupun ranting-ranting pohon. tetapi mereka begitu riang, begitu bahagia dan memiliki karakter mandiri. setiap malam mereka tak pernah kekurangan kasih sayang walaupun dengan keadaan yang seadanya, mereka benar-benar merasakan kebahagiaan.

Sungguh jauh berbeda dengan anak yang kekurangan kasih sayang. para orang tua begitu sibuk cari uang untuk anak pada akhirnya toh sang anak ternyata tidak butuh uang. mereka hanya butuh kasih sayang, perhatian belaian dan pelukan.

beberapa fenomena bahkan terlihat begitu mengerikan. sebut saja kasus narkoba pada anak. ternyata faktor terbesar mereka menggunakan narkoba adalah karena anak-anak kekurangan kasih sayang. mereka menyatakan mendapatkan kasih sayang dari teman-teman sebaya sesama pengguna narkoba. dengan menggunakan narkoba mereka bebas bercerita bebas curhat dan bebas mengekspresikan diri mereka. sangat memprihatinkan bukan???? dari kasus tersebut jelas dapat kita simpulkan bahwa anak-anak memang membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan cerita-cerita mereka, ide-ide mereka dan semua cita-cita mereka. namun apakah semua itu dapat diberikan,jika orang tua begitu sibuk dengan pekerjaan. apakah uang-uang yang diberikan dapat menjadi teman bercerita, teman berbagi ide atau sekedar curhat-curhat????? jawabannya : tidak

kasus lainnya adalah tingkat emosional anak yang cenderung tinggi. setiap hari sang anak hanya marah-marah. dan ternyata lagi-lagi penyebabnya adalah kurang nya kasih sayang. pada awalnya sang anak marah-marah karena ingin di perhatikan. akhirnya lama-kelamaan jadi kebiasaan. semakin di tegur semakin jadi, akhirnya menjadi anak yang tempramental. apakah uang bisa menjadi solusi ??? jawabannya : tidak

mari kita lihat penelitian yang lain nya
Sebuah penelitian baru yang diklaim sebagai penelitian pertama yang meneliti dampak dari perlakuan kasar dan kurangnya kasih sayang ini dilakukan oleh University of California (UCLA), Los Angels.
Tim peneliti yang dibantu oleh sekitar 756 orang dewasa yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian yang disebut Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA), mengukur 18 tanda-tanda risiko kesehatan biologis, termasuk tekanan darah tinggi, detak jantung, hormon stres, kolesterol, peradangan, dan regulasi gula darah.
Lalu para peneliti menganalisa risiko untuk penyakit biologis dengan melihat data skala laporan diri atau Risky Families Questionnaire.
Hasilnya, mereka menemukan adanya hubungan yang signifikan antara data perlakuan kasar dimasa kanak-kanak dengan risiko kesehatan yang buruk termasuk risiko penyakit kardiovaskular ketika dewasa diantara para peserta.

“Temuan kami menunjukan, mungkin ada cara untuk mengurangi dampak perlakukan kasar, setidaknya dari segi kesehatan fisik si anak,” kata Judith E. Carroll, PhD., seorang peneliti di Cousins Center for Psychoneuroimmunology, UCLA, sekaligus penulis utama penelitian ini.

Menurut Caroll, jika anak mendapatkan cinta dan kasih sayang dari sosok orang tua, mereka mungkin lebih terlindungi dari dampak perlakukan kasar yang berisiko pada masalah kesehatan ketika dewasa, daripada mereka yang tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang tua.

artinya jelas anak-anak lebih perlu dengan kasih sayang dan perhatian ketimbang dengan uang.
kesimpulan : 
1. tak bisa kita pungkiri kok bahwa untuk memenuhi kebutuhan, kita memang butuh uang. tapi ingat sobat....ternyata uang bukan segala nya. jangan sampai kita terlalu sibuk mencari uang, terlalu sibuk bekerja lantas begitu saja melupakan bahwa "yang anak-anak butuhkan adalah kasih sayang".

2. Para ahli yang menganut faham teori sistem, berpandangan bahwa yang sebenarnya, jika melihat seorang anak yang kelihatannya bermasalah, entah itu masalah penyesuaian diri, masalah belajar atau masalah lainnya, sebenarnya yang harus dicari tahu sumber penyebabnya bukanlah pada diri si anak, tapi lebih pada orang tua dan interaksi yang terjadi di dalam keluarga itu. Karena, anak bermasalah sebenarnya merupakan pertanda adanya ketidakberesan dalam hubungan keluarga itu sendiri. Jadi, masalah yang ditampilkan oleh anak merepresentasikan disfungsi yang terjadi di dalam kehidupan keluarganya.
 


Posted by: agus diansyah pendidikan, Updated at: 5:13 AM

Thursday, December 11, 2014

Metode pembelajaran tematik Terpadu


Pembelajaran yang tematik terpadu adalah Pembelajaran terpadu yang menggunakan tema. Pembelajaran tersebut memberikan pengalaman bermakna kepada siswa secara utuh. Dalam pelaksanaannya pelajaran yang diajarkan oleh guru di Sekolah Dasar diintegrasikan melalui tema-tema yang telah ditetapkan.

Pendekatan Saintifik
Pendekatan Saintifik adalah pembelajaran yang mendorong anak untuk melakukan keterampilan-keterampilan ilmiah berikut :
  1. mengamati;
  2. menanya;
  3. mengumpulkan informasi;
  4. mengasosiasi; dan
  5. mengkomunikasikan. 
  6.  
Anaklah yang harus aktif melakukan keterampilan ilmiah di atas ( bukan gurunya)

  1. Mengamati
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.

  1. Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstra berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri.
Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.

  1. Mengumpulkan informasi/eksperimen
Tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi. Anak perlu dibiasakan untuk menghubung-hubungkan antara informasi satu dengan yang lain, untuk mengambil kesimpulan. Anak perlu dihadapkan dengan sekumpulan fakta yang memiliki unsur kesamaan agar ditemukan polanya.

  1. Mengasosiasikan/mengolah informasi
Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu memeroses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
Kegiatan mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.

  1. Mengkomunikasikan 
Kegiatan berikutnya adalah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut. Anak perlu dibiasakan untuk mengemukakan dan mengkomunikasikan ide, pengalaman, dan hasil belajarnya kepada orang lain ( teman atau guru bahkan orang luar )
Pendekatan saintifik ini biasanya tampak jelas ketika siswa terlibat dalam model pembelajaran tertentu, yaitu (1) Project Based Learning, (2) Problem Based Learning, dan (3) Discovery Learning.

Project Based Learning
Project Based Learning atau kalau dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis Proyek . berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek:

pembelajaran berbasis proyek


Sesuai dengan namanya . Project Based Learning, maka siswa belajar dari melakukan proyek. Karena itu, kalau ingin menyelenggarakan Project Based Learning, harus ada proyek dulu yang ingin dikerjakan. Misalnya ada proyek penghijauan atau Pembuatan Kebun Tanaman Obat Keluarga, atau Renovasi Ruang Kelas dll.
Ketika melakukan proyek penghijauan , misalnya siswa belajar tentang IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, IPS dan mata pelajaran lain . Dengan mencatat perkembangan perkembangan tumbuhan yang ditanam dalam proyek penghijauan tersebut, anak belajar matematika. Dengan mencatat ukuranan bentuk dari daun dan aspek lain dari tanaman yang ditanam , anak belajar IPA dan sekaligus matematika. Dengan menganalisis pertumbuhan serta mencatat dan melaporkan hasilnya kepada teman, guru atau pihak lain, anak belajar bahasa Inonesia. Demikianlah seterusnya.

Catatan :
Pembelajaran berbasis proyek biasanya dilaksanakan dalam periode waktu yang lama. Minimal satu minggu penuh, bahkan bisa satu bulan, atau satu semester.
Karena itu pembelajaran berbasis proyek tidak dimaksudkan untuk menggantikan kegiatan kegiatan pembelajaran yang sudah ada di dalam Buku Siswa dan Buku Pedoman Guru. Pembelajaran Berbasis Proyek tersebut disarankan untuk diterapkan di kelas 4 dan pada setiap minggu keempat dari satu tema.

Problem Based Learning
Problem Based Learning atau dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis Masalah. berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah:
pembelajaran berbasis masalah


Sesuai dengan namanya, Problem Based Learning adalah pembelajaran yang diperoleh dari usaha untuk pemecahan masalah. Karena itu, kalau ingin menggunakan Problem Based Learning maka pertama kali yang harus ada adalah masalah.
Masalah adalah sesuatu yang ingin kita selesaikan tetapi tidak ada rumus atau cara yang serta merta dapat digunakan untuk menyelesaikannya. Masalah misalnya adalah “ Cat apa yang harus kita gunakan agar ruang yang kita rehab ini tampak kelihatan bagus, awet, tetapi harganya harus semurah mungkin?“
Dengan menyelidiki harga cat yang tersedia di lapangan, daya tahan dan kekuatannya, komposisi bahan cat, kesesuaian dengan kondidsi geografis ruangan yang akan dicat, dan lain-lain, anak-anak belajar Matematika. IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan lain-lain.
Catatan :
Sebagaimana Pembelajaran Berbasis Proyek, maka Pembelajaran Berbasis Masalah biasanya juga dilaksanakan dalam periode waktu yang lama. Minimal satu minggu penuh, bahkan bisa satu bulan, atau satu semester.
Karena itu, Pembelajaran Berbasis Masalah tidak dimaksudkan untuk menggantikan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang sudah ada di dalam Buku Siswa dan Buku Pedoman Guru.
Pembelajaran Berbasis Masalah disarankan untuk diterapkan di kelas 4 dan pada setiap minggu ke empat dari suatu tema.




Discovery Learning
Discovery Learning atau dalam bahasa Indonesia disebut Metode Penemuan. berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran pada metode discovery learning:
pembelajaran metode discovery learning


Sesuai dengan namanya, maka di dalam pembelajran dengan metode penemuan , peserta didik dituntut untuk menemukan sesuatu. Biasanya sesuatu yang ditemukan itu adalah konsep. Artinya dengan belajar penemuan, anak-anak tidak diberi tahu terlebih dahulu konsepnya, dan setelah mereka mengamati, menanya, menalar, dan mencipta serta mencoba mereka akhirnya menemukan konsep itu.
Sebagai contoh, ketika kita mengajarkan bilangan prima dengan metode penemuan, maka yang akan diberikan mula-mula kepada peserta didik peserta didik adalah beberapa contoh dan bukan contoh dari prima. Setelah dipandang cukup memadai, peserta didik diminta untuk mengumpulkan contoh-contoh dari bilangan prima itu, dan menemukan polanya serta menyimpulkan apa yang dimaksud dengan bilangan prima. Jadi definisi bilangan prima, kalau dengan metode penemuan ini, ditemukan oleh peserta didik , bukan hasil dari diberi tahu guru atau membaca definisi di buku.
Catatan :
Pembelajaran dengan Metode Penemuan merupakan metode yang tidak menuntut waktu yang lama. Ia bisa digunakan dalam satu kali tatap muka.
Berdasarkan uraian di atas Pendekatan Saintifik seharusnya tampak jelas di dalam buku siswa dan buku pedoman guru. Karena itu , kalau di dalam buku siswa dan buku pegangan guru tersebut pendekatan saintifiknya masih belum terlihat dengan jelas, tugas guru adalah bagaimana menyesuaikan buku siswa dan buku guru tersebut sehingga pendekatan saintifik itu terlihat jelas.
Dari model-model pembelajaran yang telah diuraikan di atas , model pembelajaran dengan metode penemuan bisa diterapkan untuk kegiatan sehari-hari. Sedangkan Project Based Learning dan Problem Based Learning lebih cocok digunakan untuk kelas 4, dalam minggu ke-4 dalam temanya.



Posted by: agus diansyah pendidikan, Updated at: 8:36 PM

Google+ Followers